Home » » Accretionary Wedge (Prisma Akresi)

Accretionary Wedge (Prisma Akresi)

Written By Tasrif Landoala on Selasa, 12 November 2013 | 04.26






Proses Pembentukan Accretionary wedge
Accretionary wedge atau accretionary prism dibentuk oleh proses tumbukan (collision) antar lempeng benua serta oleh proses penunjaman (subduction) antara lempeng benua dan lempeng samudra.
Pada proses tumbukan, karena baik system busur kepulauan ataupun benua tidak terjunjamkan, maka kedua sistem menjadi terkunci total. Kedua keadaan ini mengakibatkan busur kepulauan dan sediment pinggiran benua tertekan, terdeformasi, tergencet, terlipat, tersesar sungkupkan dan terangkat, membentuk jalur lipatan dan sesar yang menjadi cirri jalur orogenesa. Jalur orogenesa ini kemudian bertumbukan, terakramasi dan bergabung (amalgamsi) dengan benua. Jenis pertambahan dan pertumbuhan benua ini disebut sebagai accretionary wedge.
Pada proses subduction, seduction menghasilkan kerak accretionary widge melalui proses subduction off-scraping (penyuguan dalam penunjaman) sebagian massa kerak oseanik dikerok-disugu, dicampur dengan massa dari pinggir kontinen, diramu dalam sedimentasi dan tektonik imbrikasi jadilah accretionary widge yang bentuknya membaji mirip geometri prisma.

Dampak yang ditimbulkan dari Accretionary Wedge
Accretionary wedge merupakan daerah yang paling rawan terhadap gempa karena pusat-pusat gempa berada dibawahnya. Batuan accretionary wedge memiliki kekhasan yaitu ditemukannya batuan campur aduk (mélange, ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist yang berumur muda. Sejarah kegempaan membuktikan bahwa episentrum gempa-gempa kuat umumnya terletak pada accretionary wedge ini karena merupakan gempa dangkal (< 30 km).
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatan Kuliah Geografi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger