Home » » Interaksi Iptek dan Pembangunan

Interaksi Iptek dan Pembangunan

Written By Tasrif Landoala on Kamis, 26 September 2013 | 17.58



A.  Pendahuluan
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan menuju arah yang lebih baik. Dalam tulisan ini yang dibicarakan adalah pembangunan nasional, jadi proses-proses perubahan yang ditempuh dan dilakukan atas dasar keinginan suatu masyarakat bangsa. Di berbagai tempat di seluruh dunia dewasa ini yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Rencana pembangunan dan bantuan luar negeri ternyata tak mengatasi kecenderungan itu. Bahkan semakin mendorong keadaan tersebut.
Hampir di semua negara berkembang terdapat sektor moderen. Pola hidup dan kerja mereka tak berbeda dengan negara maju, tetapi di negara berkembang juga terdapat sektor tak moderen, yang meliputi sebagian besar penduduk. Pola hidup dan kerja bukan hanya sangat tidak memuaskan tetapi malahan dalam proses retardasi yang semakin cepat.

B.  Teknologi dan Pembangunan di Indonesia
Semua hasil yang dicapai dalam sektor moderen hanyalah khayalan kosong belaka kecuali kalau ada pertumbuhan yang sehat. Tetapi dewasa ini bagian terbesar rakyat Indonesia bukan hanya hidup sangat melarat, namun juga diliputi rasa putus asa yang berkepanjangan. Pengangguran terbuka maupun tersembunyi di pedesaan sering dikira semata-mata akibat pertambahan penduduk. Tetapi mereka yang berpendapat demikian itu masih harus menerangkan mengapa tambahan penduduk itu tidak dapat bekerja. Dikatakan bahwa mereka tak dapat bekerja karena tak punya modal. Tetapi apakah modal itu? Modal adalah buah tangan manusia. Kekurangan modal dapat dipakai untuk menjelaskan produktivitas yang rendah, tetapi tidak untuk menjelaskan nihilnya kesempatan kerja. Yang jelas penduduk pedesaan tidak bekerja atau hanya kadangkadang bekerja. Sehingga miskin dan tak berdaya. Seringkali putus asa dan nekad meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghasilan apapun di kota besar. Karena itu pertanyaannya dapat dikemukakan dengan sederhana: Apa yang dapat dilakukan untuk menyehatkan kehidupan ekonomi di luar kota-kota besar, di kota-kota kecil, dan di desa-desa yang masih menampung 58% dari penduduk negeri ini? Setidaknya, bagian yang cukup besar dari kegiatan pembangunan harus menghindari kota-kota besar. Sebaliknya justru langsung berusaha menciptakan struktur agro-industri di pedesaan dan di kota-kota kecil.
Untuk orang miskin, kesempatan kerja adalah kebutuhan yang paling besar, dan bahkan kerja yang upahnya rendah dan relatif tak produktif sekalipun masih lebih baik daripada menganggur. Seperti kata Gabriel Ardant: Jaminan kerja harus didahulukan daripada kesempurnaan. Agar sektor industri dapat berperan sebagai motor penggerak pembangunan maka perkembangannya harus didorong oleh sektor pertanian yang berkembang dalam bentuk agroindustri dan agrobisnis, dengan agroindustri berperan sebagai prime mover. Inti pendekatannya adalah meningkatkan keterkaitan sektor pertanian dengan sektor industri manufaktur. Upaya yang dipilih untuk itu adalah:
1. Meningkatkan permintaan agregat terhadap komoditi hasil sektor pertanian dengan mendorong pertumbuhan investasi di sektor manufaktur yang tertuju pada pengolahan hasil-hasil pertanian;
2. Memperkuat industri alat-alat proses agar lebih mampu menyediakan dan menanggapi permintaan barang modal yang diperlukan dalam industri manufaktur pengolahan hasil pertanian;
3.    Meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian dengan melakukan intervensi teknologis;
4.    Mengalokasikan sumberdaya iptek untuk mendukung ketiga kegiatan di atas, yaitu:
a.    Mengembangkan teknik dan sistem budidaya yang lebih efisien dan produktif,
b.    Mengembangkan proses-proses pengolahan hasil-hasil pertanian, dan
c.    Mengembangkan industri alat-alat proses.

Kalau Indonesia memfokuskan diri dengan benar pada sektor agribisnis maka tidak ada negara lain yang mampu menandingi kita. Memfokuskan diri dengan benar itu antara lain adalah menciptakan berjuta-juta tempat kerja baru di pedesaan dan kota kecil dalam lingkup industri dengan teknologi terjangkau. Tugas kita yang sebenarnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.  tempat kerja itu harus cukup murah sehingga dapat dibangun dalam jumlah besar tanpa memerlukan tingkat pembentukan modal dan impor yang tak mungkin dicapai;
2.  tempat kerja itu harus dibangun di daerah-daerah yang dihuni orang, bukan di daerah kota tempat orang cenderung pindah (urbanisasi);
3.  cara produksi, organisasi, persediaan bahan baku, keuangan, dan pemasaran, harus sederhana. Tak terlalu banyak menuntut ketrampilan yang tinggi; dan
4.    produksi harus terutama menggunakan bahan-bahan setempat.

Semua syarat tersebut dapat dipenuhi hanya jika ada pendekatan regional dalam pembangunan. Harus ada usaha secara sadar untuk mengembangkan teknologi terjangkau atau dengan mengambil istilah E. F Schumacher yaitu teknologi madya.

C.  Pendekatan Kewilayahan
Unit politik yang sudah ada belum tentu cocok untuk pengembangan ekonomi yang berguna bagi orang-orang miskin. Indonesia merupakan unit politik yang sangat besar, dan tak ragu lagi bahwa ini harus dipertahankan. Tetapi jika kebijaksanaan pembangunan itu hanya menyangkut Indonesia sebagai keseluruhan, bukan pembangunan berdsarkan wilayah, maka kecenderungannya adalah pembangunan yang terpusat di beberapa daerah kota di sektor moderen. Karena asumsi akan terjadinya efek menetes ke bawah (trickle down effect). Nyatanya kawasan terbesar yang dihuni oleh 58% penduduk tidak mendapat manfaat, atau malahan menderita. Dan kemudian muncul si kembar haram: pengangguran dan migrasi massal ke kota-kota besar. Jika tujuan pengembangan adalah memberi bantuan kepada yang membutuhkan, maka setiap daerah memerlukan pengembangannya sendiri-sendiri.
Inilah yang dimaksud dengan pendekatan kewilayahan (regional). Idealnya, setiap wilayah memiliki semacam ikatan dan identitas. Sekurang-kurangnya memiliki satu kota kecil yang merupakan pusat wilayah kota tersebut. Di samping struktur ekonomi perlu juga ada struktur kebudayaan. Di tiap-tiap desa perlu ada satu sekolah dasar, dibeberapa kota kecil ada sekolah menengah, dan pusat-pusat wilayah itu harus cukup besar untuk menampung suatu lembaga pendidikan yang lebih tinggi. Makin luas wilayahnya makin besar kebutuhannya akan struktur setempat dan desentralisasi pengembangan. Jika kebutuhan ini diabaikan, maka tak ada harapan bagi orang-orang miskin.
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatan Kuliah Geografi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger