Anda Pengunjung ke

Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Mitigasi Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitigasi Bencana. Tampilkan semua postingan

Pengenalan dan Pengendalian Kawasan Rawan Longsor

Written By Tasrif Landoala on Kamis, 07 November 2013 | 04.35



Bencana adalah kejadian yang tidak dapat diduga sebelumnya, tetapi dengan perkembangan teknologi, beberapa jenis bencana dapat dikenali gejalanya dan dapat diperkirakan waktu kejadiannya. Dengan pemanfaatan teknologi diharapkan bencana dapat dikurangi dampaknya dan masyarakat bisa mendapatkan peringatan yang lebih dini.
Untuk pengembangan daerah rawan bencana, diperlukan suatu bentuk rencana yang mempertimbangkan kawasan rawan bencana yang mutlak harus dihindari untuk pemanfaatan apapun dan kawasan rawan bencana yang masih dapat dikembangkan. Hal tersebut penting sehingga seluruh proses dan prosedur perencanaan wilayah dapat mempertimbangkan konsep-konsep mitigasi bencana yang alami ataupun yang diakibatkan oleh perbuatan manusia.
Tujuan utama mempertimbangkan potensi bencana longsor selama tahap perencanaan pembangunan adalah untuk:
1.  Meminimalisir resiko dan pengaruh daerah rawan longsor pada kawasan permukiman, sarana dan prasarana umum;
2.   Memastikan bahwa berbagai jenis pembangunan tidak dapat dilakukan di lokasi dengan potensi rawan longsor tanpa tindakan pengamanan yang memadai;
3. Mengembalikan fungsi lahan rawan longsor, bila memungkinkan, menjadi tanah yang produktif;
4. Membantu pengamanan masyarakat dan investasi swasta melalui kompensasi yang sesuai dengan kondisi lokasi tanah dan tindakan pencegahan yang diperlukan; dan
5.    Menyiapkan lokasi untuk evakuasi apabila terjadi bencana.

Sumber: Panduan Penataan Ruang dan Pengembangan Kawasan (Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional, 2001)

Geologi Gempabumi dan Peran Geologi di dalam Mitigasi Bencana Gempabumi

Written By Tasrif Landoala on Kamis, 26 September 2013 | 07.49



Geologi gempabumi (earthquake geology) merupakan suatu studi tentang sesar-sesar aktif dengan tujuan memahami potensi gempanya (Pantosti, Schwartz & Okumura, 2000). Sasaran utama geologi gempabumi adalah untuk memeri sumber gempa dari kacamata geologi dan geomorfologi serta melacaknya sampai beberapa ribu tahun ke belakang guna memperoleh karate gempabumi di dalam rekaman geologi.
Pelacakan sejarah aktivitas sesar aktif ini selain melalui rekaman geologi juga dengan menelusuri sejarah kegempaan yang terekam oleh seismometer. Dari studi geologi gempabumi dapat diperoleh gambaran sklus gempabumi pada suatu sesar. Di satu pihak bisa memberikan kontribusi pemahaman proses / genesa gempabumi dan waktu ulang gempabumi besar di suatu daerah; di lain pihak studi geologi gempabumi akan memberikan dampak sosial berkaitan dengan aplikasinya di dalam mitigasi bencana gempabumi. Geologi gempabumi sering disamakan dengan studi tektonika aktif, studi tentang gerak tektonik yang diperkirakan akan terjadi di masa mendatang yang menjadi concern bagi masyarakat (Wallace, 1986). Studi geologi gempabumi merupakan ilmu multi disiplin yang melibatkan geologi, geomorfologi, geodesi, geofisika (termasuk di dalamnya: seismik pantul dan seimik bias, gaya berat, kemagnetan, dan aliran panas), geologi struktur dan seismotektonika, stratigrafi Kuarter beserta cara pentarikhan umurnya (Yeats, Sieh & Allen, 1997).
Secara deterministik, geologi bisa memberikan gambaran tentang gempabumi yang telah terjadi termasuk di dalamnya besaran maksimum dan selang waktu ulangnya, sebaran sesar(aktif)nya beserta peristiwa pengikut gempabumi (liquefaction, tanah longsor), kecepatan geser sesarnya. Berdasar pengetahuan penulis, di Indonesia, usaha mitigasi bencana gempabumi telah banyak dilakukan, antara lain dapat dilihat dari penerbitan berbagai instansi. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi telah menerbitkan Peta Seismotektonik. Kerjasama ilmiah Indonesia-Perancis telah meneliti secara geodesi dengan menggunakan GPS untuk menghitung pergeseran sesar Sumatra (Sebrier dkk., 1993). Pengamatan sebaran sesar aktif berdasarkan analisa citra di sepanjang sesar Sumatra, sesar Palu-Koro, dan dugaan sesar aktif di Semarang (Bellier dkk., 1994). Usaha memahami karakter gempabumi Sesar Sumatra dengan pendekatan seismologi dan
fraktal (Sukmono dkk., 2001), gayaberat (Kadir dkk., 2001). Kerjasama Geoteknologi LIPI dengan California Institute of Technology juga meneliti gempabumi purba berdasar terumbu karang (Sieh dkk., 2000) dan masih banyak lagi penelitian yang tersebar di berbagai instansi dan di berbagai daerah tentang parameter bencana gempa (Harjono dkk., 1994). Di laboratorium juga dilakukan pemodelan dan simulasi (Triatmojo dan Pramumijoyo, 1994). Masih banyak lagi penelitian geologi gempabumi yang belum disebut di sini, tetapi dari paparan di atas telah banyak yang dilakukan ahli geologi di Indonesia di dalam mitigasi bencana geologi.

Mitigasi Bencana

Written By Tasrif Landoala on Minggu, 25 Agustus 2013 | 08.08



Manajemen bencana atau sering disebut penanggulangan bencana merupakan suatu bentuk rangkaian kegiatan yang dinamis, terpadu dan berkelanjutan yang dilaksanakan semenjak sebelum kejadian bencana, pada saat atau sesaat setelah kejadian bencana, hingga pasca kejadian bencana. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka manajemen penanggulangan bencana (modifikasi dari Carter, 1992 dan Iman A. Sadisun, 2004), meliputi:

1.    Mitigasi bencana
Meliputi pengumpulan dan analisis data bencana dalam rangka usaha memperkecil tingkat kerentanan dan bahaya suatu bencana.
2.    Persiapan
Menghadapi kejadian bencana, meliputi prediksi kejadian bencana (pemantauan bencana), kesiapsiagaan emergensi (persiapan tanda-tanda bahaya, sistem peringatan dini, dan sistem evakuasi), dan sosialisasi bencana melalui media cetak maupun ceramah.
3.    Pada saat atau sesaat setelah bencana
Penyelamatan korban bencana, termasuk pula usaha pencarian data dan evakuasi (pengungsian) korban. Pemberian bantuan kepada korban bencana, mkeliputi pemberian bantuan bahan makanan, pelayanan sosial, dan pelayanan medis.
4.    Pasca kejadian bencana
Rahabilitasi lahan bencana, terutama pada lokasi-lokasi bekas permukiman penduduk yang rusak atau bahkan hancur akibat bencana. Rekonstruksi atau pembangunan dan penataan kembali lahan bencana.

Manajemen penanggulangan bencana merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah pusat maupun daerah bersama-sama masyarakat dalam rangka mewujudkan perlindungan yang maksimal kepada masyarakat beserta asset-aset sosial, ekonomi dan lingkungannya dari kemungkinan terjadinya bencana.

Gunung Api



Gunung berapi terbentuk dari batuan cair panas yang disebut magma yang berasal dari perut bumi. Pada saat gunung meletus, magma naik ke permukaan melewati retakan-retakan yang ada di batuan padat dan kemudian meletus. Terkadang magma menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Magma mengalir seperti sungai api, sambil menyeret bebatuan, debu, abu, uap panas, dan gas panas lain yang dilaluinya. Magma yang meletus dari gunung berapi disebut lava. Lama kelamaan lava mendingin dan mengeras menjadi bebatuan. Dari lava yang menumpuk tersebut dapat terbentuk sebuah gunung baru. Beberapa gunung yang berasal dari gunung berapi memiliki lubang berbentuk mangkuk yang disebut kawah.
Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Matrial yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung.
Gunungapi diklasifikasikan ke dalam dua sumber erupsi, yaitu (1) erupsi pusat, erupsi keluar melalui kawah utama; dan (2) erupsi samping, erupsi keluar dari lereng tubuhnya; (3) erupsi celah, erupsi yang muncul pada retakan/sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer; (4) erupsi eksentrik, erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang menyimpang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.
Gambar. Letusan Gumung Berapi

Letusan gunung api adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan- rekahan mendekati permukaan bumi.
Setiap gunung api memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari jenis muntahan atau produk yang dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk tersebut kegiatan letusan gunung api tetap membawa bencana bagi kehidupan. Bahaya letusan gunung api memiliki resiko merusak dan mematikan.

Bahaya Letusan Gunung Api
1.  Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara 300 - 700˚ C, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi > 70 km/jam (tergantung kemiringan lereng).
2.  Lontaran Material (pijar),terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung. Jauh lontarannya sangat tergantung dari besarnya energi letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya tinggi (>200O C), ukuran materialnya pun besar dengan diameter > 10 cm sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk hidup. Lazim juga disebut sebagai "bom vulkanik".
3.   Hujan Abu Lebat, terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material yang berukuran halus (abu dan pasir halus) yang diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu dan arahnya tergantung dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini akan sangat berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan tumbuh-tumbuhan dan mengandung unsur-unsur kimia yang bersifat asam sehingga mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat.
4.    Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental dan bersuhu tinggi, antara 700 - 1200O C. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu.
5.   Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api sebab gas ini dapat keluar melalui rongga-rongga ataupun rekahan-rekahan yang terdapat di daerah gunung api. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO. Yang kerap menyebabkan kematian adalah gas CO2. Beberapa gunung yang memiliki karakteristik letusan gas beracun adalah Gunung Api Tangkuban Perahu, Gunung Api Dieng, Gunung Ciremai, dan Gunung Api Papandayan.
6.   Tsunami, umumnya dapat terjadi pada gunung api pulau, dimana saat letusan terjadi material-material akan memberikan energi yang besar untuk mendorong air laut ke arah pantai sehingga terjadi gelombang tsunami. Makin besar volume material letusan makin besar gelombang yang terangkat ke darat. Sebagai contoh kasus adalah letusan Gunung Krakatau tahun 1883.

Bahaya ikutan letusan gunung api adalah bahaya yang terjadi setelah proses peletusan berlangsung. Bila suatu gunung api meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatan Kuliah Geografi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger